Trenggalek, jurnalpos.id – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Trenggalek, KH. Yusuful Hamdani meminta Pemkab agar mengkaji ulang wacana penerapan full day school. Hal ini sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap komisi IV setempat yang menolak full day school.
Gus Yusuf sapaan dia menjelaskan, penerapan full day school itu kurang sejalan dengan tatanan peradaban pendidikan yang ada di Trenggalek. Karena, di Trenggalek itu sudah berdiri ratusan lembaga pendidikan non formal atau lembaga pendidikan agama.
“Dan itu telah nyata telah memberi kontribusi yang nyata. Meskipun realitanya anak pagi sekolah formal, tapi belajar ngaji dan agama,” ucapnya.
Ia menyebut, anak tetap rajin belajar keagamaan di TPQ, madrasah dan lembaga keagamaan lainnya di tempat masing-masing. Maka keberadaan lembaga pendidikan non formal tersebut harus dijaga dan bahu membahu untuk mempertahankannya. Tak terkecuali juga merawatnya agar tetap eksis.
Oleh karena itu, lanjutnya, PCNU Kabupaten Trenggalek berharap aga Pemkab dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk mendalami lebih jauh kelangsungan pendidikan- pendidikan yang ada di Trenggalek yang sudah merata di setiap kecamatan harus didukung berlangsungannya.
“Kan konstruksinya sudah jelas nyata dalam pembentukan karakter anak dalam hal keagamaan,” ujarnya.
Kemudian, PCNU meminta agar lembaga-lembaga pendidikan formal tetap berjalan seperti biasanya atau berjalan, yakni enam hari, agar bisa meminimalisir waktu yang sia-sia digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Pendeknya bisa menjaga keseimbangan antara keilmuan agama dan umum.
“Jadi sekali lagi, kami jajaran pengurus PCNU Trenggalek meminta kepada Pemkab untuk menangguhkan rencana full day school,” tandasnya.
Ia juga berterimakasih kepada komisi IV DPRD Kabupaten Trenggalek yang telah menampung aspirasi masyarakat terkait rencana penerapan full day school di Trenggalek.
“Terimakasih kepada teman-teman komisi IV yang telah ikut berjuang untuk menjaga kelangsungan eksistensi lembaga keagamaan,” tutupnya (*)



Komentar