TRENGGALEK, jurnalpos.id – Mengantisipasi ancaman kekeringan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan dan sumber mata air, Polres Trenggalek mengembangkan pendekatan Ecology Policing. Upaya tersebut diwujudkan melalui penanaman pohon dan pelepasliaran satwa dilindungi di kawasan Mata Air Sumbergedong, Pundensari, Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Kapolres Trenggalek AKBP Rizky Tri Putra Erryka Adi Wijaya, S.I.K., M.H., tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Perhutani KPH Kediri dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Langkah ini mendapat respons positif karena dinilai tidak hanya berorientasi pada penghijauan, tetapi juga menyentuh aspek perlindungan keanekaragaman hayati dan keberlanjutan sumber mata air.
Kapolres Trenggalek mengatakan, gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan mengambil langkah strategis menghadapi ancaman El Nino dan kekeringan. Di sisi lain, memasuki musim penghujan juga perlu diantisipasi potensi banjir dan tanah longsor.
“Berawal dari pemikiran bagaimana kita semua bisa mengambil langkah strategis menghadapi El Nino, kekeringan sekaligus menjelang masuk musim penghujan yang sering diiringi dengan bencana banjir dan tanah longsor,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sekitar 67 persen wilayah Kabupaten Trenggalek berada di bawah naungan Perhutani. Sementara sekitar 54 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi modal besar untuk memperkuat upaya menjaga lingkungan, terutama dalam mempertahankan sumber mata air, tutupan hutan serta mencegah potensi bencana hidrometeorologi.
“Ini selayaknya bisa menjadi modal besar untuk berbuat lebih dalam rangka mencegah dampak kekeringan dengan merawat sumber mata air sekaligus mencegah banjir dan tanah longsor,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 30 bibit pohon ditanam. Rinciannya terdiri dari 20 batang pohon beringin, lima pohon salam dan lima pohon jambu.
Tak hanya melakukan penghijauan, jajaran Polres Trenggalek bersama stakeholder juga melepasliarkan empat ekor burung yang berstatus dilindungi. Satwa tersebut terdiri dari satu ekor pancawarna dan tiga ekor gelatik Jawa.
Pelepasliaran satwa tersebut diharapkan turut mendukung keseimbangan ekosistem. Keberadaan satwa di kawasan hutan juga dinilai dapat membantu proses penyebaran bibit sehingga vegetasi dan keanekaragaman hayati dapat berkembang secara lebih merata.
Kapolres menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Polres Trenggalek telah membangun kolaborasi dengan stakeholder terkait untuk melanjutkan kegiatan serupa di sumber mata air maupun kawasan hutan lainnya.
“Kegiatan ini bukanlah seremonial semata. Kita sudah menjalin kerja sama dengan stakeholder terkait untuk melakukan kegiatan yang sama di sumber mata air dan kawasan hutan yang lain,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan, untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.
Masyarakat diminta tidak melakukan penebangan liar, pembakaran hutan maupun menangkap dan memburu satwa endemik.
“Agar kanopi hutan, pohon-pohon bisa terjaga dan kekeringan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” ucapnya.
Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Kediri Miswanto, S.Hut., M.H., menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kapolres Trenggalek tersebut.
Menurutnya, kegiatan konservasi selama ini cenderung berfokus pada penanaman pohon. Namun, pendekatan dengan menggabungkan penghijauan dan pelepasliaran satwa dinilai memberikan dimensi baru dalam upaya menjaga ekosistem.
“Seperti yang disampaikan Bapak Kapolres tadi bahwa melepasliarkan satwa tidak hanya membantu merawat ekosistem hutan tetapi juga memberikan kesempatan kedua bagi satwa,” tuturnya.
Ia menambahkan, konsep tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan reboisasi dan penanaman di kawasan sumber mata air lainnya.
“Ke depan pada saat kita reboisasi, penanaman-penanaman di daerah sumber mata air, juga perlu ada satwa-satwa yang dilepasliarkan,” jelasnya.
Senada, perwakilan BBKSDA Jawa Timur Ruki Umaya, S.Hut., M.Si., mengapresiasi kepedulian Polres Trenggalek terhadap kelestarian alam.
Menurutnya, Kabupaten Trenggalek memiliki potensi alam yang luar biasa sehingga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan kawasan hutan dan sumber mata air.
“Kami dari BKSDA siap mendukung dan bekerja sama kembali. Dari Rimbawan, Kehutanan maupun Kementerian Kehutanan menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolres bersama seluruh jajaran,” ujarnya.
Ruki juga mengingatkan agar pohon yang telah ditanam maupun satwa yang telah dilepasliarkan terus dirawat dan dijaga. Terutama keberadaan satwa dan sarangnya harus dilindungi dari ancaman perburuan.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, upaya menjaga hutan dan mata air di Trenggalek diharapkan tidak berhenti pada kegiatan simbolis, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk menghadapi kekeringan sekaligus mengurangi risiko banjir dan tanah longsor.(*).



Komentar