Mamasa, jurnalpos.id – Kelangkaan LPG 3 kilogram yang dikeluhkan warga Salulossa, Kelurahan Lakahang, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, dalam beberapa pekan terakhir kini menjadi perhatian masyarakat. Sabtu (20/06/2026).
Di tengah keluhan warga mengenai sulitnya memperoleh gas bersubsidi serta melonjaknya harga di tingkat pengecer, pengelola pangkalan LPG di Salulossa yang dikenal dengan nama Papa Denis akhirnya memberikan klarifikasi kepada media.
Dalam keterangannya, Papa Denis menjelaskan bahwa pangkalan yang dikelolanya merupakan pangkalan berskala kecil dengan kuota terbatas, yakni sekitar 50 tabung LPG setiap kali distribusi.
“Saya ini hanya pangkalan kecil dengan kuota sekitar 50 tabung. Saya heran kenapa justru saya yang dipermasalahkan, sementara di wilayah Lakahang masih terdapat beberapa pangkalan lain yang kapasitasnya lebih besar,” ujarnya.
Menurut Papa Denis, keterbatasan kuota yang diterima membuat pihaknya tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa selama ini pihaknya tetap berupaya melayani masyarakat sesuai dengan pasokan yang tersedia.
Terkait pendataan Kartu Keluarga (KK) yang sebelumnya dilakukan kepada warga, Papa Denis menegaskan bahwa hal tersebut bukan merupakan kebijakan yang dibuat oleh pihak pangkalan.
“Pendataan Kartu Keluarga yang dilakukan sebelumnya merupakan bagian dari ketentuan dalam penyaluran LPG bersubsidi. Itu bukan aturan dari kami, melainkan aturan yang harus dijalankan dalam proses pendataan penerima LPG subsidi,” jelasnya.
Papa Denis juga menyampaikan keberatannya terhadap pemberitaan yang menurutnya dapat menimbulkan kesan seolah-olah kelangkaan LPG sepenuhnya disebabkan oleh pangkalan yang dikelolanya.
“Saya selama ini berusaha melayani masyarakat. Saya juga merupakan ASN, sehingga saya berharap persoalan ini dapat disikapi secara objektif dan berimbang. Jika diperlukan, saya akan menyampaikan keberatan ini kepada pihak lurah, camat, maupun kepolisian agar persoalan ini dapat dilihat secara menyeluruh,” katanya.
Sementara itu, sejumlah warga mengaku masih mengalami kesulitan memperoleh LPG 3 kilogram meskipun telah terdaftar dalam sistem pendataan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian warga terpaksa membeli gas dari pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga di pangkalan.
Persoalan ini dinilai memerlukan perhatian pemerintah daerah, aparat pengawas perdagangan, agen penyalur, serta pihak Pertamina untuk memastikan distribusi LPG bersubsidi berjalan tepat sasaran dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Warga berharap dilakukan evaluasi terhadap rantai distribusi, jumlah kuota yang dialokasikan, serta pengawasan terhadap ketersediaan stok agar kelangkaan serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
Media ini akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut dan tetap membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak terkait guna menjaga keberimbangan informasi kepada publik.(*).
- Laporan: Roman


Komentar