Aceh
Home ยป Berita ยป Gotong Royong Lawan Isolasi, Warga Sawang Bangun Tiga Jembatan Darurat Pascabanjir

Gotong Royong Lawan Isolasi, Warga Sawang Bangun Tiga Jembatan Darurat Pascabanjir

Aceh Utara, jurnalpos.id – Warga terpencil di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, membangun dua jembatan apung dan satu jembatan gantung berkonstruksi kayu secara swadaya sebagai akses penyeberangan darurat pascabanjir besar yang melanda daerah tersebut pada November 2025 lalu.

Sekretaris Gampong Gunci, Jamaluddin kepada awak media online menjelaskan, ketiga jembatan tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat dari empat desa yaitu Gampong Gunci, Kubu, Lhok Cut dan Blang Cut.

“Tiga jembatan ini sebagai akses penghubung antardesa, pasca terputusnya jembatan rangka baja dan sejumlah jembatan gantung akibat banjir 25 November 2025 lalu,” kata Jamaluddin, Sabtu, 30 Mei 2026.

Jamaluddin menambahkan, jembatan penyeberangan darurat itu dibangun menggunakan kayu gelondongan sisa banjir, kabel, bambu dan sejumlah pendukung lainnya. Untuk jembatan gantung memiliki panjang 49 meter dan tinggi 5 meter, dan jembatan apung memiliki ketinggian dua meter dari arus air sungai.

“Jembatan darurat ini dibangun secara swadaya demi kebutuhan kelancaran pendidikan anak-anak dalam mengakses jalan untuk bersekolah, mengangkut hasil panen dan akses tenaga pengajar atau guru dalam melintas ke sekolah,” tuturnya.

Polres Aceh Selatan Selesaikan Kasus KDRT Lewat Restorative Justice, Pasutri Sepakat Berdamai

Jembatan itu, sambung Jamaluddin, hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki dan sepeda motor. Para petani terpaksa memikul hasil panen ketika melalui jembatan tersebut. Hal tersebut dilakukan demi keamanan mengingat kondisi jembatan.

“Sekarang masyarakat tidak perlu was-was lagi naik rakit untuk menyeberang, anak-anak sekolah, guru dan petani sudah bisa memanfaatkan jembatan darurat kayu ini,” katanya.

Jamaluddin berharap pemerintah segera membangun jembatan yang layak di desa mereka.

“Tolong pemerintah bangunlah akses yang layak, karena kami akui untuk membangun jembatan rangka baja atau permanen butuh proses dan waktu,” imbuhnya.

Salah seorang guru asal Gampong Babah Krueng, Nurmala, mengatakan dirinya mau tak mau harus melewat jembatan darurat kendatipun khawatir dan takut. Namun, hal terpenting baginya dapat sampai ke tujuan tanpa harus menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai.(SrNTv).

Aceh Selatan Memanas: Timsus Bupati Dipertanyakan, Oknum DPRK Diduga Ikut Kelola dan nikmati Lahan Konflik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Populer

Post