Jurnalpos.id – Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang melaju cepat, masyarakat perdesaan kerap menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai dan memudarnya kebersamaan. Namun, di Desa Suka Julu, sebuah tradisi keagamaan lokal tetap bertahan kokoh menjadi benteng pertahanan sosial dan spiritual warga. Tradisi tersebut adalah kegiatan wirid mingguan, sebuah ruang perjumpaan rutin tempat masyarakat muslim Suka Julu berkumpul untuk melantunkan zikir dan doa bersama.
Lebih dari sekadar ritual rutin keagamaan, wirid mingguan telah menjelma menjadi “ruang damai” yang merawat keharmonisan sosial serta memperkuat modal sosial masyarakat setempat.
Pembentukan Kesadaran Individu
Dzikir dan doa bersama berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan spiritual yang membawa ketenangan batin. Sebagaimana dijelaskan dalam literatur sosiologi agama ritual keagamaan gabungan, memiliki fungsi mendasar untuk memperkuat kesadaran bersama dan mengikat individu ke dalam satu moralitas bersama.
Melalui pembacaan kalimat-kalimat thoyyibah yang dilakukan secara serentak, tercipta suasana khusyuk yang meleburkan batas-batas ego individu. Gejolak emosional dan beban hidup sehari-hari terasa dalam ritme zikir yang tenang, melahirkan kedamaian individu sekaligus perkumpulan jamaah yang hadir.
Dari sudut pandang sosiologis, ruang wirid di Desa Suka Julu beroperasi sebagai arena interaksi sosial yang sangat inklusif. Di tempat ini, sekat-sekat perbedaan status ekonomi, latar belakang pendidikan, hingga pandangan politik seketika meluruh.
Warga duduk sejajar di atas tikar yang sama, berbagi bacaan doa, dan diakhiri dengan tradisi ramah tamah atau makan bersama. Tatanan interaksi semacam ini memperkuat bonding social capital yaitu ikatan sosial erat yang berbasis pada kepercayaan, norma bersama, dan jaringan kerja sama antarwarga. Tradisi ini menjadi wadah efektif untuk resolusi konflik secara alami, di mana potensi gesekan sosial antarwarga dapat diredam melalui komunikasi informal yang hangat setelah kegiatan wirid.
Selain itu, wirid mingguan di Suka Julu juga menjalankan fungsi artikulasi kearifan lokal. Agama tidak hanya dipraktikkan sebagai doktrin yang kaku, melainkan menyatu secara harmonis dengan tatanan nilai kemasyarakatan lokal. Majelis wirid ini kerap kali menjadi sarana koordinasi gotong royong, penyampaian informasi desa, hingga aksi kepedulian sosial seperti penggalangan dana musibah bagi warga yang membutuhkan. Sinergi antara dimensi keimanan dan kepedulian sosial ini membuktikan bahwa lembaga keagamaan berbasis komunitas memiliki daya tahan yang kuat dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan sosial masyarakat perdesaan.
Merawat Kebersamaan di Ruang Sederhana
Pada akhirnya, tradisi wirid mingguan di Desa Suka Julu mengajarkan kita bahwa kedamaian masyarakat tidak selalu dibangun melalui regulasi atau infrastruktur fisik yang megah, melainkan dari ruang-ruang perjumpaan yang sederhana namun konsisten.
Lewat getaran zikir dan kekhusyukan doa bersama, masyarakat Suka Julu berhasil merawat tradisi luhur yang tidak hanya menyirami dahaga spiritual, tetapi juga memperkokoh sendi-sendi kebersamaan. Ruang damai ini adalah bukti nyata bagaimana nilai keagamaan dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat.
Tradisi wirid mingguan di Desa Suka Julu mengajarkan kita bahwa kedamaian masyarakat tidak selalu lahir dari regulasi formal atau pembangunan infrastruktur yang megah. Kedamaian tersebut tumbuh secara alami dari ruang-ruang perjumpaan yang sederhana, inklusif, dan konsisten.
Melalui gema zikir dan kekhusyukan doa bersama, warga Suka Julu tidak hanya menyirami dahaga spiritual, tetapi juga terus merajut tali silaturahmi. Ruang damai ini menjadi cermin nyata bagaimana nilai keimanan dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dalam merawat keharmonisan hidup bermasyarakat.(*)
- Penulis oleh mahasiswa kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe



Komentar