MAMUJU, Jurnalpos.id – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, mendorong percepatan pemulihan perkebunan kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, melalui pemenuhan kebutuhan pupuk, penyediaan bibit unggul, pengendalian hama, hingga penguatan fasilitas pengolahan hasil perkebunan.
Hal tersebut disampaikan Wapres saat berdialog langsung dengan sejumlah petani kakao di Sentra Pembibitan Kakao Mamunyu, Kabupaten Mamuju, Senin (02/11/2026).
Dalam kesempatan itu, Wapres mendengarkan berbagai persoalan yang selama ini menjadi hambatan petani dalam meningkatkan produktivitas perkebunan kakao.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan berbagai program pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya para petani yang membutuhkan perhatian dan dukungan dalam memulihkan sektor perkebunan.
Dalam dialog tersebut, sejumlah persoalan mencuat, mulai dari kekeringan yang menyebabkan tanaman kakao mati, serangan hama, keterbatasan pupuk subsidi, hingga minimnya sarana pendukung pertanian dan buruknya akses jalan menuju kawasan perkebunan.
Salah seorang petani kakao, Suwardi, mengungkapkan bahwa persoalan ketersediaan pupuk subsidi masih menjadi kendala serius di tingkat petani. Ia menyebutkan, alokasi pupuk yang diterima kios belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan petani sebagaimana tercatat dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
โKadangkala kami mau menebus pupuk di kios, pupuknya sudah habis. Sementara data RDKK yang masuk di kios itu 100 persen, kami tanyakan ke kios kenapa kami kehabisan pupuk. Kios katanya data yang mereka terima cuma 60 persen dari RDKK yang ada,โ ujar Suwardi.
Keluhan serupa disampaikan Hasbi. Ia menjelaskan bahwa dampak kekeringan sebelumnya mengakibatkan banyak pohon kakao milik petani mengalami kematian. Kondisi tersebut membuat petani membutuhkan dukungan sarana pengairan, terutama pompa air dan tandon, untuk membantu memulihkan perkebunan.
โKendala yang kami alami di kebun, Pak, yaitu kekeringan, Pak, kemarin. Sehingga banyak sekali pohon kakao kami yang mati. Ya, tadi dilaporkan, butuh pompa dan tandon,โ tutur Hasbi.
Selain persoalan pengairan, Hasbi juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan tani yang rusak dan menyulitkan petani dalam mengakses bantuan maupun mengangkut hasil perkebunan.
โKami sangat mohon bantuan untuk jalan tani kami, Pak. Kami susah dapat bantuan gara-gara akses jalan yang sangat rusak,โ tambahnya.
Merespons berbagai keluhan tersebut, Wapres langsung mengarahkan Plt. Sekretaris Wakil Presiden, Al Muktabar, untuk berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian guna memastikan penyaluran pupuk subsidi sesuai alokasi dan ketentuan bagi petani yang telah terdaftar dalam RDKK.
Sementara itu, petani yang belum masuk dalam data RDKK diminta untuk terlebih dahulu didata agar kebutuhan mereka dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah.
โUntuk pupuk subsidi, kita pastikan ke Kementan, yang sudah terdaftar dalam RDKK mendapatkan alokasi sesuai kebutuhan dan ketentuan. Untuk yang belum terdaftar, tolong didata dulu untuk dikoordinasi juga,โ arahan Wapres.
Tidak hanya menyangkut pupuk, Wapres juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan peralatan pertanian, seperti obat pengendali hama, chainsaw, hand sprayer, dan pompa air. Ia meminta agar kebutuhan yang dapat segera dipenuhi melalui pengadaan pemerintah tidak perlu menunggu terlalu lama.
โNanti yang bisa kita segera pengadaan, kita pengadaan langsung aja, Pak, untuk dibagikan di sini. Tadi kita bawa ini ya, pompa kayaknya, tapi baru sedikit soalnya mendadak,โ ungkapnya.
Di sisi lain, Wapres menegaskan bahwa pemulihan perkebunan kakao harus dibarengi dengan penguatan sektor hilir, terutama fasilitas pengolahan hasil perkebunan. Menurutnya, kakao yang dihasilkan petani harus mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah tempat pengolahan biji kakao di Kaluku yang saat ini tidak lagi beroperasi setelah terdampak banjir bandang.
โKita ingin kakao yang dihasilkan petani bisa memiliki nilai tambah lebih besar bagi para petani,โ tegasnya.
Mengenai persoalan infrastruktur, Wapres juga menekankan pentingnya pembangunan konektivitas antarwilayah perkebunan. Ia menyampaikan bahwa usulan perbaikan jalan tani akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal pemerintah.
โTempat-tempat ini harus saling terkoneksi. Jadi mohon ditunggu, ya, Bapak, Ibu, ya. Dengan memperhatikan kekuatan fiskalnya dulu. Nanti coba kita ajukan dan saya lapor ke pimpinan dulu,โ ujar Wapres.
Menurut Gibran, peningkatan produktivitas perkebunan tidak akan memberikan hasil maksimal apabila persoalan distribusi masih terkendala infrastruktur yang buruk. Karena itu, pembenahan akses jalan harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan pupuk, pengendalian hama, dan sarana produksi lainnya.
โKarena kalau nanti misalnya pupuknya udah baik, hamanya udah hilang, produksinya meningkat. Kalau jalannya masih rusak, ya, percuma nanti,โ imbuhnya.
Menutup dialog bersama para petani, Wapres turut menyampaikan salam dari Presiden Prabowo Subianto sekaligus mengajak masyarakat mendoakan agar Presiden senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan amanah pemerintahan.
โSalam juga dari Pak Presiden Prabowo, ya. Kita doakan Pak Presiden sehat selalu dan diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas-tugasnya,โ pungkas Wapres.
Melalui dialog tersebut, pemerintah diharapkan dapat menindaklanjuti berbagai aspirasi petani secara konkret, sehingga pemulihan perkebunan kakao di Mamuju tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memperkuat nilai ekonomi komoditas unggulan daerah dan kesejahteraan para petani.(*)
Penulis: ROMAN



Komentar