Banda Aceh, jurnalpos.id – Kepedulian terhadap lingkungan hidup dan peningkatan kualitas pendidikan menjadi fokus utama dalam diskusi publik yang digelar mahasiswa asal Samadua, Aceh Selatan, bersama Rafly Kande di Wahana Jeda Ruang Bicara, Batoh, Banda Aceh, Senin (11/5/2026).
Dalam forum tersebut, Rafly Kande mendorong generasi muda agar tidak hanya aktif dalam pendidikan, tetapi juga memiliki kesadaran sosial untuk menjaga lingkungan dan menghadapi berbagai persoalan yang mengancam masa depan daerah.
Menurut peserta diskusi, peran anak muda dinilai sangat penting dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks, mulai dari persoalan sampah, peredaran narkoba, hingga maraknya judi online di tengah masyarakat.
Pada diskusi yang berlangsung Sabtu, 9 Mei 2026 itu, persoalan narkoba menjadi salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian. Mahasiswa menilai peredaran narkoba merupakan ancaman serius yang dapat merusak generasi muda secara sistematis apabila tidak dicegah sejak dini.
Karena itu, mereka menekankan pentingnya edukasi, pengawasan lingkungan, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Selain isu sosial, persoalan pendidikan juga menjadi sorotan utama dalam forum tersebut. Mahasiswa meminta agar sistem penyaluran beasiswa dilakukan secara transparan, adil, dan bebas dari praktik diskriminatif.
Mereka menyoroti dugaan ketimpangan akses beasiswa akibat kedekatan dengan pihak tertentu yang dinilai merugikan mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Dalam diskusi itu, peserta juga berharap anggota DPRK Aceh Selatan maupun DPRA dapat memperjuangkan persoalan tersebut hingga ke tingkat kebijakan. Mahasiswa meminta adanya ruang dialog resmi agar aspirasi terkait pendidikan dapat disampaikan secara terbuka dan ditindaklanjuti secara nyata.
Persoalan lingkungan turut menjadi perhatian serius. Peserta diskusi menyinggung masalah sampah rumah tangga yang mencemari sungai dan berdampak pada kerusakan ekosistem di sejumlah wilayah Samadua.
Kondisi tersebut disebut menyebabkan berkurangnya populasi ikan serta pendangkalan sungai yang berpotensi memicu persoalan lingkungan lebih besar di masa mendatang.
Mahasiswa juga menyoroti ancaman mikroplastik yang dinilai berbahaya bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Karena itu, mereka mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis gampong sebagai langkah konkret untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Di sisi lain, sektor pariwisata juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Samadua. Pengembangan sektor tersebut dianggap membutuhkan dukungan infrastruktur, budaya masyarakat yang ramah, serta penguatan produk lokal agar mampu menarik wisatawan.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi tersebut, peserta menyampaikan rencana pelaksanaan Gerakan Peduli Lingkungan bersama sejumlah stakeholder setelah pelaksanaan MUBES IMPS dan terbentuknya kepengurusan baru.
Kegiatan itu direncanakan berlangsung di kawasan tepi pantai sebagai bentuk aksi nyata kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
Diskusi publik tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan pembangunan yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat Samadua ke depan.(SrNTv).


Komentar