Jurnalpos.id – Siapa sangka video singkat tentang selada hidroponik atau aktivitas berkebun di halaman rumah dapat menarik jutaan penonton di media sosial? Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk agribisnis. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial telah membuka peluang baru untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda dengan cara yang lebih menarik, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Selama bertahun-tahun, sektor pertanian sering kali dipandang sebagai pekerjaan yang identik dengan lumpur, panas matahari, dan pendapatan yang tidak menentu. Akibatnya, banyak generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor industri, teknologi, atau jasa dibandingkan terjun ke dunia pertanian. Padahal, pertanian merupakan sektor strategis yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan perekonomian nasional.
Di tengah tantangan tersebut, media sosial hadir sebagai jembatan yang mempertemukan generasi muda dengan dunia agribisnis. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube memungkinkan informasi tentang pertanian disampaikan secara lebih sederhana dan mudah dipahami. Konten yang sebelumnya dianggap kurang menarik kini dapat dikemas menjadi video pendek yang informatif sekaligus menghibur.
Saat ini, tidak sulit menemukan konten mengenai hidroponik, urban farming, budidaya tanaman, peternakan modern, hingga kehidupan masyarakat desa yang sederhana dan produktif. Banyak kreator membagikan pengalaman mereka menanam sayuran di lahan terbatas, merawat tanaman hias, atau memanfaatkan pekarangan rumah untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomi. Konten semacam ini secara perlahan berhasil mengubah persepsi bahwa agribisnis hanya dapat dilakukan di lahan yang luas dan membutuhkan modal besar.
Salah satu tren yang cukup populer adalah budidaya tanaman dengan sistem hidroponik. Banyak anak muda mulai mencoba menanam selada, cabai, tomat, dan berbagai jenis sayuran lainnya meskipun tinggal di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan. Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan sebagai hobi, tetapi juga berkembang menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertanian dapat beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penyedia pangan.
Selain itu, media sosial juga mempopulerkan konsep kehidupan yang lebih dekat dengan alam atau yang sering dikenal sebagai slow living. Berbagai konten yang menampilkan aktivitas bertani, berkebun, dan beternak di lingkungan pedesaan kerap mendapat respons positif dari pengguna media sosial. Suasana yang tenang, udara yang segar, dan kehidupan yang tidak terlalu bergantung pada ritme perkotaan membuat banyak anak muda mulai melihat desa dari sudut pandang yang berbeda.
Fenomena tersebut sebenarnya menjadi peluang besar untuk menarik minat generasi muda terhadap sektor agribisnis. Ketika anak muda mulai tertarik dengan aktivitas bercocok tanam dan kehidupan pedesaan, maka peluang untuk mengenalkan agribisnis secara lebih luas juga semakin terbuka. Ketertarikan yang awalnya muncul karena konten hiburan dapat berkembang menjadi rasa ingin tahu yang lebih mendalam mengenai potensi usaha dan karier di bidang pertanian.
Meski demikian, meningkatnya eksposur agribisnis di media sosial belum sepenuhnya mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Hingga saat ini, profesi petani masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Rendahnya tingkat kesejahteraan petani menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan generasi muda enggan menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan karier. Banyak yang beranggapan bahwa bekerja di sektor pertanian tidak mampu memberikan penghasilan yang memadai dibandingkan profesi lain.
Selain faktor kesejahteraan, citra pertanian di Indonesia juga masih lekat dengan metode tradisional dan penggunaan teknologi yang terbatas. Sebagian besar masyarakat masih membayangkan pertanian sebagai pekerjaan fisik yang berat dan kurang menjanjikan. Padahal, perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha pertanian.
Jika dibandingkan dengan beberapa negara maju, sektor pertanian telah berkembang menjadi bidang yang modern dan berbasis teknologi. Berbagai inovasi seperti sistem irigasi otomatis, rumah kaca pintar, pemanfaatan sensor digital, hingga penggunaan data untuk pengambilan keputusan telah menjadi bagian dari aktivitas pertanian sehari-hari. Kondisi tersebut membuat pertanian memiliki citra yang lebih profesional dan menarik bagi generasi muda.
Di sinilah peran media sosial menjadi sangat penting. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan bahwa agribisnis bukan lagi sektor yang tertinggal, melainkan bidang yang terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Melalui berbagai konten edukatif, generasi muda dapat melihat bahwa agribisnis memiliki ruang yang luas bagi kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan.
Tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, media sosial juga membuka peluang ekonomi yang nyata. Saat ini, hasil pertanian dapat dipasarkan secara langsung melalui platform digital tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar konvensional. Sayuran hidroponik, buah-buahan, tanaman hias, hingga produk olahan hasil pertanian dapat dipromosikan kepada konsumen dengan biaya yang relatif terjangkau. Kemudahan ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk membangun usaha agribisnis secara mandiri.
Lebih jauh lagi, perkembangan teknologi digital juga menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru di sektor agribisnis. Saat ini, dunia pertanian tidak hanya membutuhkan petani, tetapi juga tenaga pemasaran digital, pengelola media sosial, analis data pertanian, hingga pengembang teknologi pertanian. Hal ini membuktikan bahwa agribisnis memiliki prospek karier yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dibayangkan oleh sebagian masyarakat.
Namun demikian, media sosial tidak selalu memberikan dampak positif. Tidak semua informasi yang beredar memiliki kualitas yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Banyak konten pertanian yang dibuat hanya untuk mengikuti tren tanpa didukung pengetahuan yang memadai. Akibatnya, informasi yang diterima masyarakat terkadang kurang akurat dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Selain itu, media sosial sering kali hanya menampilkan sisi menarik dari dunia pertanian tanpa memperlihatkan tantangan yang sebenarnya di lapangan. Proses produksi yang panjang, risiko gagal panen, perubahan iklim, fluktuasi harga, serta keterbatasan akses modal jarang menjadi sorotan utama. Padahal, pemahaman yang utuh mengenai peluang dan tantangan sangat diperlukan agar minat generasi muda tidak berhenti pada rasa kagum semata.
Oleh karena itu, peningkatan minat generasi muda terhadap agribisnis tidak dapat hanya mengandalkan media sosial. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku usaha, maupun masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mendukung petani muda, memperluas akses terhadap teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Sementara itu, sekolah dan perguruan tinggi dapat berperan dalam memperkenalkan konsep agribisnis modern yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, media sosial telah berhasil membuka jendela baru yang memperlihatkan wajah agribisnis yang lebih modern, kreatif, dan dekat dengan kehidupan generasi muda. Konten tentang hidroponik, urban farming, peternakan modern, hingga kehidupan produktif di desa telah membuktikan bahwa pertanian dapat tampil menarik di tengah era digital.
Tantangan memang masih ada, tetapi peluang yang terbuka jauh lebih besar. Jika media sosial dimanfaatkan secara bijak dan didukung oleh kebijakan yang tepat, agribisnis tidak hanya akan menjadi sektor yang penting bagi ketahanan pangan, tetapi juga menjadi bidang yang diminati dan dibanggakan oleh generasi muda Indonesia. Dengan demikian, regenerasi petani dan pelaku agribisnis dapat terus berlangsung demi mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih maju, modern, dan berkelanjutan.(*).
- Artikel ini ditulis oleh : Ghina Safira
- Program Studi: S1 Agribisnis
- Fakultas : Sains dan Teknologi
- Instansi: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Teknis Opini
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@jurnalpos.id/wa: 0812345544718
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah minimal 300 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
Hak muat redaksi


Komentar