MAMASA, Jurnalpos.id — Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mamasa kembali menuai gejolak akibat mencuatnya dugaan kelakuan kontroversial oknum petugas penagihan di lapangan.
Kekecewaan warga memuncak ketika rumah mereka mendadak didatangi oleh pihak yang mengaku sebagai penagih lapangan pada Senin siang, sekitar pukul 14.15 WITA.
Petugas tersebut melontarkan ancaman akan memutus sambungan air jika tunggakan sebesar Rp800 ribu tidak segera dilunasi sesebuah penagihan yang dirasa ironis lantaran pasokan air bersih justru kerap macet total dan hanya mengalir sesaat beberapa jam sebelumnya. Senin, 12/10/2026.
Kejanggalan makin mencolok saat awak media melakukan konfirmasi langsung kepada petugas yang masih berada di lokasi penagihan. Ketika ditanya mengenai kelayakan tagihan di tengah distribusi air yang mampat hingga sebulan penuh, oknum tersebut justru menawarkan opsi yang membingungkan dengan meminta warga membayar biaya beban sebesar Rp29 ribu agar saluran tidak ditutup.
Merasa dipermainkan oleh pola penagihan yang janggal dan kualitas layanan yang jauh dari kata layak, warga memilih bersikap masa bodoh dan menantang balik ancaman petugas. “Biar mi petugas tutup kalau begitu, karena jarang ji juga mengalir airnya,” celetuk warga dengan nada geram.
Menanggapi insiden yang memanas di lapangan, Direktur PDAM Mamasa, Nurhadi Lake, akhirnya memberikan klarifikasi resmi saat dikonfirmasi oleh pihak media. Nurhadi membenarkan bahwa angka tunggakan sebesar Rp800 ribu tersebut memang benar adanya akibat penumpukan tagihan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ia menjelaskan bahwa pihak manajemen saat ini sedang gencar melakukan penertiban jaringan pipa, sekaligus berupaya memberikan solusi bagi warga agar beban tunggakan tidak terus membengkak mengingat kondisi pasokan air yang diakuinya memang sering terkendala.
Namun, terkait ucapan anggotanya di lapangan yang meminta pembayaran beban Rp29 ribu sebagai syarat “aman” dari pemutusan, Nurhadi dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Pihaknya menepis adanya arahan atau praktik semacam itu di internal PDAM.
Ia menegaskan tidak ragu untuk mempertemukan oknum petugas terkait dengan pihak media di kantor jika terbukti ada pelanggaran verbal, seraya meminta agar informasi yang beredar di lapangan tidak diputarbalikkan.
Meski pihak direksi telah memberikan bantahan, fakta bahwa distribusi air masih jauh dari kata lancar tetap meninggalkan luka dan rasa frustrasi di tengah masyarakat. Polemik ini menegaskan perlunya pembenahan total di tubuh PDAM Mamasa bukan hanya pada sistem penagihan dan komunikasi para petugas di lapangan, tetapi juga pada pemenuhan hak mendasar pelanggan untuk mendapatkan aliran air bersih secara konsisten.(*).
Penulis: ROMAN



Komentar