Banda Aceh, jurnalpos.id – Fenomena kemacetan dan pelanggaran antrean di kawasan jembatan penghubung jalur timur–barat kembali menjadi sorotan. Sejumlah pengendara, khususnya kendaraan pribadi, dinilai kerap menerobos antrean dengan melawan arus, terutama pada Minggu sore saat arus lalu lintas meningkat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kadis Pendidikan Aceh Murthalamuddin, yang mengaku telah dua kali mengalami langsung antrean panjang dari arah timur ke barat.
“Yang benar-benar antre umumnya truk dan beberapa kendaraan pribadi. Sementara kendaraan pribadi lainnya justru menerobos, melawan arus, lalu berkumpul di depan toko di pangkal jembatan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media, Selasa (05/05/2026).
Menurutnya, mayoritas pengguna kendaraan pribadi tersebut kemungkinan tengah terburu-buru, baik karena kembali dari kampung, mengantar anak ke sekolah berasrama, kuliah, maupun ke dayah.
Namun, ia mempertanyakan sikap para pengendara yang dinilai lebih terpelajar, tetapi justru tidak menunjukkan kedisiplinan di jalan.
“Saya membayangkan mereka ini lebih alim dan terpelajar dibanding sopir truk. Tapi kenapa tidak mau antre dengan benar? Malah melanggar hak orang lain yang sudah lebih dulu antre,” katanya.

Murthalamuddin menilai fenomena tersebut mencerminkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni ketimpangan antara ilmu dan akhlak.
“Orang-orang ini mungkin terpelajar, tapi tidak terdidik. Berilmu tapi tidak beramal. Alim tapi tidak berakhlak,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut kondisi ini sebagai bagian dari kegagalan sistem pendidikan, baik di sekolah maupun di dayah, yang dinilai belum sepenuhnya mampu membentuk karakter dan budi pekerti.
“Pendidikan kita berhasil melahirkan orang berilmu, tapi belum mampu membentuk akhlak dan rasa empati,” tambahnya.
Sebagai refleksi, ia menyampaikan motto yang diusung pihaknya, yakni “sipat atee nibak atee”, yang bermakna pentingnya pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kepekaan sosial.
“Harapannya, pendidikan ke depan mampu melahirkan manusia yang berilmu, terampil, dan berakhlak,” pungkasnya.(SrNTv).


Komentar