Aceh
Home ยป Berita ยป Ketua SMSI Pidie : Gen Z Aceh Asing Dengan Budaya Canca Dan Canu

Ketua SMSI Pidie : Gen Z Aceh Asing Dengan Budaya Canca Dan Canu

Pidie, jurnalpos.id – Dari canca hingga canu/cawan, kosakata sederhana bahasa Aceh mulai hilang dari lidah generasi muda Pidie.

SMSI menilai fenomena ini sebagai alarm serius pudarnya identitas budaya yang tak lagi mendapat perhatian serius, terutama dari media dan pemangku kebijakan.

Penerima mandat Ketua SMSI Kabupaten Pidie menegaskan, fenomena tersebut bukan sekadar perubahan bahasa, tetapi menjadi tanda pudarnya identitas budaya lokal yang harus segera disikapi.
โ€œPromosi budaya kita masih seperti lampu teplok di siang bolong, ada, tapi tak memberi terang. Media harus jadi penggerak, bukan sekadar pelapor,โ€ tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, Muhammad Riza (Boim), mantan Manager sekaligus Pimpinan Redaksi program radio Askar Kencana FM โ€œSarapan Pagiโ€ mengkritik keras gaya siaran media lokal yang dinilai kehilangan jati diri.

Menurutnya, banyak media, khususnya radio, justru mengadopsi gaya Jakarta bahkan kebarat-baratan yang tidak mencerminkan karakter Pidie.

Polisi Datangi Lokasi Kebakaran Rumah di Uteun Bayi, Kerugian Ditaksir Rp 200 Juta

โ€œKenapa harus ikut gaya Jakarta atau kebarat-baratan? Ini ibarat kopi sanger tapi rasa soda, ramai di lidah, tapi hilang ruhnya. Pendengar luar justru ingin dengar bahasa Aceh dengan logat Pidie yang khas,โ€ ujar Riza.

Ia menambahkan, media memiliki peran strategis dalam menjaga dan mewariskan bahasa sebagai bagian dari identitas budaya.
โ€œSekarang anak-anak tidak lagi tahu โ€˜cancaโ€™ atau โ€˜canu/cawanโ€™. Ini tanda amnesia budaya. Kalau dibiarkan, kita akan kehilangan jati diri,โ€ katanya.

Riza juga mendorong pimpinan perusahaan media di Kabupaten Pidie untuk lebih serius melihat sektor seni dan budaya sebagai bagian penting dalam pemberitaan.

โ€œJangan hanya kejar klik dan isu viral. Budaya ini bukan tren sesaat, tapi warisan. Pimpinan media harus punya visi,โ€ tegasnya.

Selain itu, ia mengajak media untuk aktif menggali potensi generasi muda, seperti artis lokal, pemusik, penari, dan pelakon daerah agar mendapat ruang publikasi.

Azhari Cage Minta Gas Blok Andaman Diolah di Arun, Bukan di Laut Lepas

โ€œBanyak talenta muda yang tidak punya panggung. Media harus jadi jembatan. Jangan tunggu viral baru diliput,โ€ tambahnya.

Sementara itu, pemerhati seni dan budaya, Hasan Usman, mengkritik Pemerintah Kabupaten Pidie, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang dinilai belum maksimal dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah.

โ€œJangan sampai budaya hanya jadi pelengkap acara dan laporan. Ini harus hidup di masyarakat, terutama di dunia pendidikan,โ€ ujarnya.

Ia menilai minimnya pembinaan dan lemahnya integrasi budaya dalam kurikulum menjadi salah satu penyebab generasi muda semakin jauh dari akar budaya.

โ€œKalau tidak dikenalkan sejak dini, jangan heran anak-anak lebih kenal budaya luar. Ini seperti menanam tanpa merawat,โ€ katanya.

Imigrasi Pastikan Enam WNA Asal Tiongkok di Aceh Selatan Tak Langgar Aturan Keimigrasian

Hal senada juga disampaikan pengamat seni dan budaya Pidie, Iksan Usman, yang menilai lemahnya arah kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan budaya menjadi persoalan serius.

โ€œBudaya kita seperti berjalan tanpa kompas. Tidak ada arah yang jelas. Program ada, tapi tidak berkelanjutan,โ€ ujarnya.

Menurut Iksan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus lebih progresif dan berani menjadikan budaya sebagai prioritas pembangunan daerah.

โ€œKalau dinas hanya sibuk seremoni, budaya kita akan habis pelan-pelan. Ini ibarat rumah besar yang ditinggal penghuninya,โ€ tegasnya.

Iksan Usman menambahkan, persoalan yang terjadi di Pidie bukan semata lemahnya promosi, tetapi juga kegagalan membangun ekosistem budaya yang terintegrasi.

Menurutnya, saat ini terjadi โ€œmata rantai yang terputusโ€ antara pendidikan, media, dan pelaku budaya.
โ€œSekolah tidak menguatkan, media tidak menggaungkan, pemerintah tidak mengarahkan. Akhirnya budaya berjalan sendiri-sendiri tanpa kekuatan,โ€ jelasnya.

Ia menegaskan, tanpa langkah konkret dan kolaboratif, Pidie berisiko kehilangan identitas budayanya dalam jangka panjang.
Diskusi ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara media, pemerintah daerah, dan pelaku seni budaya dalam membangun ekosistem promosi yang kuat dan berkelanjutan.

SMSI Kabupaten Pidie menyatakan siap menjadi bagian dari solusi dalam menguatkan peran media sebagai garda terdepan pelestarian dan promosi budaya daerah.(SrNTv).

Post Populer

Post